LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA
PENGEMBANGAN KOMPETENSI MERANCANG DAN MELAKUKAN EKSPERIMEN BAGI SISWA KELAS X DENGAN
MODEL PENGAJARAN LANGSUNG PADA POKOK BAHASAN
HUKUM-HUKUM NEWTON TENTANG GERAK
DI MA MU'ALLIMAT NW PANCOR
Oleh :
MUH. MAKHRUS, M.Pd
SATUTIK RAHAYU, S.Pd
DIBIAYAI DIPA
NOMOR: 0145.0/023-04.0/-/2007
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) HAMZANWADI SELONG
NOPEMBER, 2007
PENGEMBANGAN KOMPETENSI MERANCANG DAN MELAKUKAN
EKSPERIMEN MELALUI MODEL PENGAJARAN LANGSUNG
PENGEMBANGAN KOMPETENSI MERANCANG DAN MELAKUKAN EKSPERIMEN BAGI SISWA KELAS X DENGAN
MODEL PENGAJARAN LANGSUNG PADA POKOK BAHASAN
HUKUM-HUKUM NEWTON TENTANG GERAK
DI MA MU'ALLIMAT NW PANCOR
Oleh :
MUH. MAKHRUS, M.Pd
SATUTIK RAHAYU, S.Pd
DIBIAYAI DIPA
NOMOR: 0145.0/023-04.0/-/2007
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) HAMZANWADI SELONG
NOPEMBER, 2007
PENGEMBANGAN KOMPETENSI MERANCANG DAN MELAKUKAN
EKSPERIMEN MELALUI MODEL PENGAJARAN LANGSUNG
ABSTRAC
Type of this research is a descriptive research with four-D model. It’s also included in to explanation research with experiment method. The tools which are developed conclude books, sheet of activity contain of sheet of experiment, monitoring, curriculum teaching plan, examination result, process and performance.
This research is designed using Pretest-Posttest Control Group Design. The result of monitoring and data analysis found that ability of student in designing process and experiment are excellent. The students are also happy and having good interest to the training of skilled process. The process of studying that implement this method can increase the proportion of correct answer for result examination 72 %, while proportion correct answer for examination result process and performance 80 %. From result of statistic analysis t-test found that the examination result product of student which is taught through designed competency and doing experiment with direct instruction model is better than tutoring method or conventional model.
Key words: competency, experiment, direct instruction.
PENDAHULUAN
Visi pendidikan sains yaitu mempersiapkan siswa yang melek sains dan teknologi, untuk memahami dirinya dan lingkungan sekitarnya, melalui pengembangan keterampilan proses, sikap ilmiah, keterampilan berfikir, penguasaan konsep sains yang esensial, dan kegiatan teknologi, serta upaya pengelolaan lingkungan secara bijaksana yang dapat menumbuhkan sikap pengagungan terhadap Tuhan (Puskur, 2001). Secara konseptual muatan pendidikan IPA yang terkandung dalam kurikulum di Indonesia, sudah cukup responsif terhadap perkembangan yang terjadi di masyarakat, tetapi dalam kenyataannya, selama ini belum dapat menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.
Untuk mencapai visi pendidikan sains yang terdapat dalam kurikulum, guru dalam mengajarkan konsep-konsep fisika, harus menekankan pada proses dan sikap ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud adalah cara memperoleh pengetahuan melalui pengamatan (observasi) dan melakukan eksperimen, yaitu kemampuan melakukan pengukuran, menguji hipotesis, merancang eksperimen, mengambil dan mengolah data, interpretasi data, dan dapat mengkomunikasikan hasil eksperimen tersebut.
Proses belajar mengajar IPA khususnya fisika, hendaknya mengutamakan pengalaman langsung siswa, yaitu melalui kegiatan laboratorium. Sebagaimana pernyataan Nur (1995) bahwa proses belajar mengajar di laboratorium merupakan bagian inti dari pendidikan IPA, bukan sekadar pelengkap. Laboratorium tidak sekadar tempat praktek, melainkan wadah yang paling cocok untuk melakukan pengamatan (observasi) dan eksperimen bagi anak didik. Karena laboratorium merupakan lingkungan yang kondisinya dapat dikendalikan dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas percobaan. Hal ini sebagaimana diperjelas oleh Tjokrodihardjo (1995) bahwa “Laboratorium memberikan kesempatan kepada siswa belajar dengan berbuat untuk lebih memudahkan menangkap dan memahami fakta dan gejala objek yang dipelajari.”
Pada umumnya kegiatan belajar mengajar fisika hanya menekankan pada aspek penguasaan konsep saja, kurangnya pelaksanaan latihan keterampilan proses dan psikomotor siswa, kurangnya pelaksanaan proses belajar mengajar dengan menggunakan laboratorium sebagai salah satu fasilitas yang sangat mendukung pembelajaran fisika untuk melatihkan keterampilan proses dan psikomotor siswa, keterbatasan waktu dan fasilitas, keterbatasan guru fisika itu sendiri, sebagian besar pembelajaran dilakukan dengan model pengajaran tradisional di mana guru hanya menggunakan metode ceramah, mencatat dan pemberian tugas, sedangkan siswa tidak diberikan kesempatan untuk berlatih melakukan pembuktian di laboratorium sehingga dalam waktu yang singkat guru dapat menyajikan dan menyelesaikan bahan ajar yang cukup banyak. Hal ini membuat fisika menjadi mata pelajaran yang kurang menarik dan kurang diminati oleh sebagian besar siswa, bahkan merupakan mata pelajaran yang sangat menakutkan, karena penuh dengan konsep-konsep yang abstrak yang memerlukan penalaran yang lebih tinggi dan perhitungan-perhitungan matematika yang sangat rumit. Kondisi tersebut juga terjadi di MA Mu'allimat NW Pancor.
Pada pelajaran fisika SMU Kelas X, Semester 1, berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak. Dalam mempelajari pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak, siswa dituntut untuk mampu menerapkan karakteristik hukum-hukum Newton tentang gerak serta besaran-besaran yang terkait di dalamnya untuk memecahkan masalah sehari-hari. Untuk memudahkan siswa memahami hukum-hukum Newton tentang gerak diperlukan suatu eksperimen, misalnya eksperimen tentang neraca pegas, sehingga siswa menjadi terbiasa untuk melakukan keterampilan proses IPA dalam memahami atau menemukan konsep IPA. Pada pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak terdapat tingkat kerumitan berpikir, pada tingkat paling bawah berupa informasi faktual, yaitu pengetahuan deklaratif sederhana atau pengetahuan tentang sesuatu, seperti menghafal hukum atau rumus-rumus, sedang pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu pengetahuan prosedural atau pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, seperti merencanakan dan melakukan eksperimen.
Mengingat struktur isi pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak, dan pentingnya pengajaran yang menekankan pada keterampilan proses IPA terutama keterampilan merancang dan melakukan eksperimen untuk memahami konsep tersebut, maka pokok bahasan ini akan diajarkan dengan menggunakan model Direct Instruction yang dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
TINJAUAN PUSTAKA
Fisika merupakan salah satu cabang dari IPA yang mempelajari tentang zat dan energi dalam segala bentuk manifestasinya. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk SMU telah dijelaskan bahwa mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran sains yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam dan penyelesaian masalah, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif dengan menggunakan matematika serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri. Hal ini menunjukkan bahwa fisika memiliki karakteristik yang tidak berbeda dengan karakteristik IPA pada umumnya, yaitu merupakan produk dan proses yang tak terpisahkan. Ini berarti bahwa dalam proses kegiatan belajar mengajar fisika agar diperoleh hasil belajar yang optimal, siswa dalam pembelajarannya harus dilibatkan secara fisik dan mental pada masalah-masalah prediksi, observasi, merencanakan eksperimen, sampai pada melakukan eksperimen agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Direct Instruction merupakan salah satu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah (Arends, 1997: 64). Model pembelajaran ini dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah (Kardi & Nur, 2000: 5). Hal ini sesuai dengan pendapat Carin (1993: 82) bahwa Direct Instruction secara sistematis menuntun dan membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar dari masing-masing tahap demi tahap.
Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih, lama kelamaan akan menjadi suatu keterampilan (Nur, M. 200a). Sedang pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar yang sekaligus memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu yang terampil dalam bentuk kreativitas.
Para ahli di kalangan pendidikan IPA menyatakan bahwa IPA adalah produk atau konsep dan sekaligus juga sebagai proses. Hubungan antara produk IPA dengan proses IPA, seperti telah diungkapkan oleh Nur (1996) bahwa mengajarkan IPA terbatas pada produk atau fakta, konsep tanpa mempertimbangkan proses, atau sebaliknya penekanan yang berlebihan pada proses tanpa mempertimbangkan konsep juga kurang dapat diterima.
Ada dua alasan yang melandasi perlunya diterapkan Pendekataan Keterampilan Proses dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya IPA fisika bagi siswa SMU. Alasan pertama adalah bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pesat pula, sehingga tak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Jika guru masih bersikap “mau mengajarkan” semua fakta dan konsep dari berbagai cabang ilmu, maka sudah jelas target itu tidak akan tercapai. Sebagai alternatifnya, siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak semata-mata dari guru.
Alasan kedua, adalah IPA itu dapat dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi poses. Jadi betapa pentingnya keterampilan proses yang dapat diartikan sebagi proses untuk mendapatkan ilmu yang diajarkan kepada siswa sehingga dimasa yang akan datang bangsa kita tidak hanya pandai menggunakan IPA tetapi pandai juga memproduksi IPA. Dengan demikian bangsa kita akan dapat sejajar dengan bangsa yang maju lainnya.
Funk, dkk. dalam Nur, M (1996: 8) mengklasifikasikan keterampilan proses menjadi keterampilan proses IPA dasar dan keterampilan proses IPA terpadu. Keterampilan proses IPA dasar terdiri dari pengamatan, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, dan inferensi. Sedangkan keterampilan yang lebih kompleks (keterampilan proses terpadu) terdiri dari pengidentifikasian variabel, penyusunan tabel data, penyusunan grafik, pendeskripsian hubungan antar variabel, pemerolehan data dan pemrosesan data, penganalisaan, penyelidikan, dan pengeksperimenan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian deskriptif dan penelitian penjelasan dengan metode eksperimen. Dalam mengimplementasikan perangkat pembelajaran, peneliti menggunakan pendekatan keterampilan proses meliputi keterampilan merencanakan dan melakukan eksperimen pada kelas eksperimen (X5) dan menggunakan pembelajaran yang biasa dilakukan di sekolah dengan metode ceramah, tanya jawab, eksperimen, dan pemberian tugas sebagai pembanding pada kelas control (X4) MA Mu'allimat NW Pancor.
Pada saat pengimplementasian perangkat pembelajaran di kelas, peneliti menggunakan rancangan Pretest-Postest Control-Group Design (Tuckman: 1978: 131-132). Dalam penelitian ini, variabel yang dikontrol adalah guru, jumlah RPP, jumlah jam pelajaran, dan soal tes produk.
Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap pengembangan dan tahap pelaksanaan uji coba perangkat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan mengujicobakan perangkat pembelajaran yang telah disusun dalam pengajaran di kelas. Pengembangan perangkat pembelajaran dengan menggunakan Four-D model yang dikemukakan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974: 5). Proses pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari empat tahap yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan dessiminate (penyebaran) atau diadaptasikan menjadi Model 4-P, yaitu Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran (Ibrahim, 2002).
Selama pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan terhadap kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan proses dan pada akhir pembelajaran siswa diminta memberi respon terhadap kegiatan belajar mengajar yang telah berlangsung, sedangkan untuk mengetahui tingkat ketercapaian indicator (ketuntasan belajar), dilakukan uji awal (pretest) dan uji akhir (post-test) yang teknik analisis datanya menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Tujuannya untuk mendeskripsikan kegiatan siswa selama proses pembelajaran, dan statistik inferensial untuk melihat perbedan prestasi yang dicapai siswa sebelum dan sesudah KBM berlangsung.
KESIMPULAN
Hasil pengamatan dan analisis data diperoleh temuan antara lain, kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan proses merancang dan melakukan eksperimen adalah baik, serta siswa senang dan berminat terhadap pelatihan keterampilan proses. Proses belajar mengajar yang menerapkan perangkat pembelajaran ini dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa untuk THB Produk sebesar 72 %, sedangkan untuk proporsi jawaban benar siswa untuk THB Proses dan Kinerja sebesar 80 %, dan dari hasil analisis statistik uji-t, diperoleh bahwa hasil belajar produk siswa yang diajar melalui kompetensi merancang dan melakukan eksperimen dengan model pengajaran langsung adalah lebih baik dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran yang biasa dilakukan disekolah dengan metode ceramah, tanya jawab, eksperimen, dan pemberian tugas.
DAFTAR PUSTAKA
Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: Mc Graw-Hill Companies, Inc.
Carin, A.A. 1993. Teaching Modern Science, Sixth Edition. New York: Macmillan Publishing Company.
Ibrahim, M. (2002). Pengembangan perangkat Pembelajaran. Modul: Bio-C-06 Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Kardi, S. dan Nur, M. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya: UNESA University Press.
Nur, M. 1995. Masalah Pendidikan IPA dan Alternatif Pemecahannya. Makalah Di Sampaikan pada Peresmian Jabatan Guru Besar IKIP Surabaya, 30 Januari 1995.
Nur, M. 1996. Konsep Tentang Arah Pengembangan Pendidikan IPA SMP dan SMU Dalam Waktu 5 Tahun Yang Akan Datang. Makalah Disajikan Pada Kegiatan Penyusun Bahan dan Persiapan PKG IPA Dikmenum Di BPG Surabaya Tanggal 11 S.D. 22 Juni 1996.
Nur, M. 2000a. Buku Panduan Keterampilan Proses dan Hakikat Sains. Surabaya: Unesa-University Press.
Puskur. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Pusat Kurikulum , Balitbang Depdiknas.
Thiagarajan,S.,Semmel. D.S.,& Semmel,M.I. 1974. Instructional Development for training teachers of Exceptional Children a Sourcebook. Bloomington: Center for Innovation on teaching the Handicaped.
Tjokrodiharjo. 1995. Kontribusi Kegiatan Laboratorium Dalam Proses Pembelajaran Kimia di SMU Sebagai Upaya Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia Pada Era Iptek Dalam Pelita VI. Makalah Di Sampaikan Pada Pengukuhan Guru Besar, Universitas Negeri Surabaya.
This research is designed using Pretest-Posttest Control Group Design. The result of monitoring and data analysis found that ability of student in designing process and experiment are excellent. The students are also happy and having good interest to the training of skilled process. The process of studying that implement this method can increase the proportion of correct answer for result examination 72 %, while proportion correct answer for examination result process and performance 80 %. From result of statistic analysis t-test found that the examination result product of student which is taught through designed competency and doing experiment with direct instruction model is better than tutoring method or conventional model.
Key words: competency, experiment, direct instruction.
PENDAHULUAN
Visi pendidikan sains yaitu mempersiapkan siswa yang melek sains dan teknologi, untuk memahami dirinya dan lingkungan sekitarnya, melalui pengembangan keterampilan proses, sikap ilmiah, keterampilan berfikir, penguasaan konsep sains yang esensial, dan kegiatan teknologi, serta upaya pengelolaan lingkungan secara bijaksana yang dapat menumbuhkan sikap pengagungan terhadap Tuhan (Puskur, 2001). Secara konseptual muatan pendidikan IPA yang terkandung dalam kurikulum di Indonesia, sudah cukup responsif terhadap perkembangan yang terjadi di masyarakat, tetapi dalam kenyataannya, selama ini belum dapat menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.
Untuk mencapai visi pendidikan sains yang terdapat dalam kurikulum, guru dalam mengajarkan konsep-konsep fisika, harus menekankan pada proses dan sikap ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud adalah cara memperoleh pengetahuan melalui pengamatan (observasi) dan melakukan eksperimen, yaitu kemampuan melakukan pengukuran, menguji hipotesis, merancang eksperimen, mengambil dan mengolah data, interpretasi data, dan dapat mengkomunikasikan hasil eksperimen tersebut.
Proses belajar mengajar IPA khususnya fisika, hendaknya mengutamakan pengalaman langsung siswa, yaitu melalui kegiatan laboratorium. Sebagaimana pernyataan Nur (1995) bahwa proses belajar mengajar di laboratorium merupakan bagian inti dari pendidikan IPA, bukan sekadar pelengkap. Laboratorium tidak sekadar tempat praktek, melainkan wadah yang paling cocok untuk melakukan pengamatan (observasi) dan eksperimen bagi anak didik. Karena laboratorium merupakan lingkungan yang kondisinya dapat dikendalikan dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas percobaan. Hal ini sebagaimana diperjelas oleh Tjokrodihardjo (1995) bahwa “Laboratorium memberikan kesempatan kepada siswa belajar dengan berbuat untuk lebih memudahkan menangkap dan memahami fakta dan gejala objek yang dipelajari.”
Pada umumnya kegiatan belajar mengajar fisika hanya menekankan pada aspek penguasaan konsep saja, kurangnya pelaksanaan latihan keterampilan proses dan psikomotor siswa, kurangnya pelaksanaan proses belajar mengajar dengan menggunakan laboratorium sebagai salah satu fasilitas yang sangat mendukung pembelajaran fisika untuk melatihkan keterampilan proses dan psikomotor siswa, keterbatasan waktu dan fasilitas, keterbatasan guru fisika itu sendiri, sebagian besar pembelajaran dilakukan dengan model pengajaran tradisional di mana guru hanya menggunakan metode ceramah, mencatat dan pemberian tugas, sedangkan siswa tidak diberikan kesempatan untuk berlatih melakukan pembuktian di laboratorium sehingga dalam waktu yang singkat guru dapat menyajikan dan menyelesaikan bahan ajar yang cukup banyak. Hal ini membuat fisika menjadi mata pelajaran yang kurang menarik dan kurang diminati oleh sebagian besar siswa, bahkan merupakan mata pelajaran yang sangat menakutkan, karena penuh dengan konsep-konsep yang abstrak yang memerlukan penalaran yang lebih tinggi dan perhitungan-perhitungan matematika yang sangat rumit. Kondisi tersebut juga terjadi di MA Mu'allimat NW Pancor.
Pada pelajaran fisika SMU Kelas X, Semester 1, berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak. Dalam mempelajari pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak, siswa dituntut untuk mampu menerapkan karakteristik hukum-hukum Newton tentang gerak serta besaran-besaran yang terkait di dalamnya untuk memecahkan masalah sehari-hari. Untuk memudahkan siswa memahami hukum-hukum Newton tentang gerak diperlukan suatu eksperimen, misalnya eksperimen tentang neraca pegas, sehingga siswa menjadi terbiasa untuk melakukan keterampilan proses IPA dalam memahami atau menemukan konsep IPA. Pada pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak terdapat tingkat kerumitan berpikir, pada tingkat paling bawah berupa informasi faktual, yaitu pengetahuan deklaratif sederhana atau pengetahuan tentang sesuatu, seperti menghafal hukum atau rumus-rumus, sedang pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu pengetahuan prosedural atau pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, seperti merencanakan dan melakukan eksperimen.
Mengingat struktur isi pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak, dan pentingnya pengajaran yang menekankan pada keterampilan proses IPA terutama keterampilan merancang dan melakukan eksperimen untuk memahami konsep tersebut, maka pokok bahasan ini akan diajarkan dengan menggunakan model Direct Instruction yang dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
TINJAUAN PUSTAKA
Fisika merupakan salah satu cabang dari IPA yang mempelajari tentang zat dan energi dalam segala bentuk manifestasinya. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk SMU telah dijelaskan bahwa mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran sains yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam dan penyelesaian masalah, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif dengan menggunakan matematika serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri. Hal ini menunjukkan bahwa fisika memiliki karakteristik yang tidak berbeda dengan karakteristik IPA pada umumnya, yaitu merupakan produk dan proses yang tak terpisahkan. Ini berarti bahwa dalam proses kegiatan belajar mengajar fisika agar diperoleh hasil belajar yang optimal, siswa dalam pembelajarannya harus dilibatkan secara fisik dan mental pada masalah-masalah prediksi, observasi, merencanakan eksperimen, sampai pada melakukan eksperimen agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Direct Instruction merupakan salah satu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah (Arends, 1997: 64). Model pembelajaran ini dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah (Kardi & Nur, 2000: 5). Hal ini sesuai dengan pendapat Carin (1993: 82) bahwa Direct Instruction secara sistematis menuntun dan membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar dari masing-masing tahap demi tahap.
Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih, lama kelamaan akan menjadi suatu keterampilan (Nur, M. 200a). Sedang pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar yang sekaligus memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu yang terampil dalam bentuk kreativitas.
Para ahli di kalangan pendidikan IPA menyatakan bahwa IPA adalah produk atau konsep dan sekaligus juga sebagai proses. Hubungan antara produk IPA dengan proses IPA, seperti telah diungkapkan oleh Nur (1996) bahwa mengajarkan IPA terbatas pada produk atau fakta, konsep tanpa mempertimbangkan proses, atau sebaliknya penekanan yang berlebihan pada proses tanpa mempertimbangkan konsep juga kurang dapat diterima.
Ada dua alasan yang melandasi perlunya diterapkan Pendekataan Keterampilan Proses dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya IPA fisika bagi siswa SMU. Alasan pertama adalah bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pesat pula, sehingga tak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Jika guru masih bersikap “mau mengajarkan” semua fakta dan konsep dari berbagai cabang ilmu, maka sudah jelas target itu tidak akan tercapai. Sebagai alternatifnya, siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak semata-mata dari guru.
Alasan kedua, adalah IPA itu dapat dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi poses. Jadi betapa pentingnya keterampilan proses yang dapat diartikan sebagi proses untuk mendapatkan ilmu yang diajarkan kepada siswa sehingga dimasa yang akan datang bangsa kita tidak hanya pandai menggunakan IPA tetapi pandai juga memproduksi IPA. Dengan demikian bangsa kita akan dapat sejajar dengan bangsa yang maju lainnya.
Funk, dkk. dalam Nur, M (1996: 8) mengklasifikasikan keterampilan proses menjadi keterampilan proses IPA dasar dan keterampilan proses IPA terpadu. Keterampilan proses IPA dasar terdiri dari pengamatan, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, dan inferensi. Sedangkan keterampilan yang lebih kompleks (keterampilan proses terpadu) terdiri dari pengidentifikasian variabel, penyusunan tabel data, penyusunan grafik, pendeskripsian hubungan antar variabel, pemerolehan data dan pemrosesan data, penganalisaan, penyelidikan, dan pengeksperimenan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian deskriptif dan penelitian penjelasan dengan metode eksperimen. Dalam mengimplementasikan perangkat pembelajaran, peneliti menggunakan pendekatan keterampilan proses meliputi keterampilan merencanakan dan melakukan eksperimen pada kelas eksperimen (X5) dan menggunakan pembelajaran yang biasa dilakukan di sekolah dengan metode ceramah, tanya jawab, eksperimen, dan pemberian tugas sebagai pembanding pada kelas control (X4) MA Mu'allimat NW Pancor.
Pada saat pengimplementasian perangkat pembelajaran di kelas, peneliti menggunakan rancangan Pretest-Postest Control-Group Design (Tuckman: 1978: 131-132). Dalam penelitian ini, variabel yang dikontrol adalah guru, jumlah RPP, jumlah jam pelajaran, dan soal tes produk.
Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap pengembangan dan tahap pelaksanaan uji coba perangkat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan mengujicobakan perangkat pembelajaran yang telah disusun dalam pengajaran di kelas. Pengembangan perangkat pembelajaran dengan menggunakan Four-D model yang dikemukakan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974: 5). Proses pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari empat tahap yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan dessiminate (penyebaran) atau diadaptasikan menjadi Model 4-P, yaitu Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran (Ibrahim, 2002).
Selama pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan terhadap kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan proses dan pada akhir pembelajaran siswa diminta memberi respon terhadap kegiatan belajar mengajar yang telah berlangsung, sedangkan untuk mengetahui tingkat ketercapaian indicator (ketuntasan belajar), dilakukan uji awal (pretest) dan uji akhir (post-test) yang teknik analisis datanya menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Tujuannya untuk mendeskripsikan kegiatan siswa selama proses pembelajaran, dan statistik inferensial untuk melihat perbedan prestasi yang dicapai siswa sebelum dan sesudah KBM berlangsung.
KESIMPULAN
Hasil pengamatan dan analisis data diperoleh temuan antara lain, kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan proses merancang dan melakukan eksperimen adalah baik, serta siswa senang dan berminat terhadap pelatihan keterampilan proses. Proses belajar mengajar yang menerapkan perangkat pembelajaran ini dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa untuk THB Produk sebesar 72 %, sedangkan untuk proporsi jawaban benar siswa untuk THB Proses dan Kinerja sebesar 80 %, dan dari hasil analisis statistik uji-t, diperoleh bahwa hasil belajar produk siswa yang diajar melalui kompetensi merancang dan melakukan eksperimen dengan model pengajaran langsung adalah lebih baik dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran yang biasa dilakukan disekolah dengan metode ceramah, tanya jawab, eksperimen, dan pemberian tugas.
DAFTAR PUSTAKA
Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: Mc Graw-Hill Companies, Inc.
Carin, A.A. 1993. Teaching Modern Science, Sixth Edition. New York: Macmillan Publishing Company.
Ibrahim, M. (2002). Pengembangan perangkat Pembelajaran. Modul: Bio-C-06 Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Kardi, S. dan Nur, M. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya: UNESA University Press.
Nur, M. 1995. Masalah Pendidikan IPA dan Alternatif Pemecahannya. Makalah Di Sampaikan pada Peresmian Jabatan Guru Besar IKIP Surabaya, 30 Januari 1995.
Nur, M. 1996. Konsep Tentang Arah Pengembangan Pendidikan IPA SMP dan SMU Dalam Waktu 5 Tahun Yang Akan Datang. Makalah Disajikan Pada Kegiatan Penyusun Bahan dan Persiapan PKG IPA Dikmenum Di BPG Surabaya Tanggal 11 S.D. 22 Juni 1996.
Nur, M. 2000a. Buku Panduan Keterampilan Proses dan Hakikat Sains. Surabaya: Unesa-University Press.
Puskur. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Pusat Kurikulum , Balitbang Depdiknas.
Thiagarajan,S.,Semmel. D.S.,& Semmel,M.I. 1974. Instructional Development for training teachers of Exceptional Children a Sourcebook. Bloomington: Center for Innovation on teaching the Handicaped.
Tjokrodiharjo. 1995. Kontribusi Kegiatan Laboratorium Dalam Proses Pembelajaran Kimia di SMU Sebagai Upaya Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia Pada Era Iptek Dalam Pelita VI. Makalah Di Sampaikan Pada Pengukuhan Guru Besar, Universitas Negeri Surabaya.