Minggu, 23 November 2008

PDM

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA


PENGEMBANGAN KOMPETENSI MERANCANG DAN MELAKUKAN EKSPERIMEN BAGI SISWA KELAS X DENGAN
MODEL PENGAJARAN LANGSUNG PADA POKOK BAHASAN
HUKUM-HUKUM NEWTON TENTANG GERAK
DI MA MU'ALLIMAT NW PANCOR


Oleh :
MUH. MAKHRUS, M.Pd
SATUTIK RAHAYU, S.Pd






DIBIAYAI DIPA
NOMOR: 0145.0/023-04.0/-/2007
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) HAMZANWADI SELONG
NOPEMBER, 2007

PENGEMBANGAN KOMPETENSI MERANCANG DAN MELAKUKAN
EKSPERIMEN MELALUI MODEL PENGAJARAN LANGSUNG

ABSTRAC
Type of this research is a descriptive research with four-D model. It’s also included in to explanation research with experiment method. The tools which are developed conclude books, sheet of activity contain of sheet of experiment, monitoring, curriculum teaching plan, examination result, process and performance.
This research is designed using Pretest-Posttest Control Group Design. The result of monitoring and data analysis found that ability of student in designing process and experiment are excellent. The students are also happy and having good interest to the training of skilled process. The process of studying that implement this method can increase the proportion of correct answer for result examination 72 %, while proportion correct answer for examination result process and performance 80 %. From result of statistic analysis t-test found that the examination result product of student which is taught through designed competency and doing experiment with direct instruction model is better than tutoring method or conventional model.

Key words: competency, experiment, direct instruction.





















PENDAHULUAN
Visi pendidikan sains yaitu mempersiapkan siswa yang melek sains dan teknologi, untuk memahami dirinya dan lingkungan sekitarnya, melalui pengembangan keterampilan proses, sikap ilmiah, keterampilan berfikir, penguasaan konsep sains yang esensial, dan kegiatan teknologi, serta upaya pengelolaan lingkungan secara bijaksana yang dapat menumbuhkan sikap pengagungan terhadap Tuhan (Puskur, 2001). Secara konseptual muatan pendidikan IPA yang terkandung dalam kurikulum di Indonesia, sudah cukup responsif terhadap perkembangan yang terjadi di masyarakat, tetapi dalam kenyataannya, selama ini belum dapat menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.
Untuk mencapai visi pendidikan sains yang terdapat dalam kurikulum, guru dalam mengajarkan konsep-konsep fisika, harus menekankan pada proses dan sikap ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud adalah cara memperoleh pengetahuan melalui pengamatan (observasi) dan melakukan eksperimen, yaitu kemampuan melakukan pengukuran, menguji hipotesis, merancang eksperimen, mengambil dan mengolah data, interpretasi data, dan dapat mengkomunikasikan hasil eksperimen tersebut.
Proses belajar mengajar IPA khususnya fisika, hendaknya mengutamakan pengalaman langsung siswa, yaitu melalui kegiatan laboratorium. Sebagaimana pernyataan Nur (1995) bahwa proses belajar mengajar di laboratorium merupakan bagian inti dari pendidikan IPA, bukan sekadar pelengkap. Laboratorium tidak sekadar tempat praktek, melainkan wadah yang paling cocok untuk melakukan pengamatan (observasi) dan eksperimen bagi anak didik. Karena laboratorium merupakan lingkungan yang kondisinya dapat dikendalikan dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas percobaan. Hal ini sebagaimana diperjelas oleh Tjokrodihardjo (1995) bahwa “Laboratorium memberikan kesempatan kepada siswa belajar dengan berbuat untuk lebih memudahkan menangkap dan memahami fakta dan gejala objek yang dipelajari.”
Pada umumnya kegiatan belajar mengajar fisika hanya menekankan pada aspek penguasaan konsep saja, kurangnya pelaksanaan latihan keterampilan proses dan psikomotor siswa, kurangnya pelaksanaan proses belajar mengajar dengan menggunakan laboratorium sebagai salah satu fasilitas yang sangat mendukung pembelajaran fisika untuk melatihkan keterampilan proses dan psikomotor siswa, keterbatasan waktu dan fasilitas, keterbatasan guru fisika itu sendiri, sebagian besar pembelajaran dilakukan dengan model pengajaran tradisional di mana guru hanya menggunakan metode ceramah, mencatat dan pemberian tugas, sedangkan siswa tidak diberikan kesempatan untuk berlatih melakukan pembuktian di laboratorium sehingga dalam waktu yang singkat guru dapat menyajikan dan menyelesaikan bahan ajar yang cukup banyak. Hal ini membuat fisika menjadi mata pelajaran yang kurang menarik dan kurang diminati oleh sebagian besar siswa, bahkan merupakan mata pelajaran yang sangat menakutkan, karena penuh dengan konsep-konsep yang abstrak yang memerlukan penalaran yang lebih tinggi dan perhitungan-perhitungan matematika yang sangat rumit. Kondisi tersebut juga terjadi di MA Mu'allimat NW Pancor.
Pada pelajaran fisika SMU Kelas X, Semester 1, berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak. Dalam mempelajari pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak, siswa dituntut untuk mampu menerapkan karakteristik hukum-hukum Newton tentang gerak serta besaran-besaran yang terkait di dalamnya untuk memecahkan masalah sehari-hari. Untuk memudahkan siswa memahami hukum-hukum Newton tentang gerak diperlukan suatu eksperimen, misalnya eksperimen tentang neraca pegas, sehingga siswa menjadi terbiasa untuk melakukan keterampilan proses IPA dalam memahami atau menemukan konsep IPA. Pada pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak terdapat tingkat kerumitan berpikir, pada tingkat paling bawah berupa informasi faktual, yaitu pengetahuan deklaratif sederhana atau pengetahuan tentang sesuatu, seperti menghafal hukum atau rumus-rumus, sedang pengetahuan yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu pengetahuan prosedural atau pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, seperti merencanakan dan melakukan eksperimen.
Mengingat struktur isi pokok bahasan hukum-hukum Newton tentang gerak, dan pentingnya pengajaran yang menekankan pada keterampilan proses IPA terutama keterampilan merancang dan melakukan eksperimen untuk memahami konsep tersebut, maka pokok bahasan ini akan diajarkan dengan menggunakan model Direct Instruction yang dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.

TINJAUAN PUSTAKA
Fisika merupakan salah satu cabang dari IPA yang mempelajari tentang zat dan energi dalam segala bentuk manifestasinya. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk SMU telah dijelaskan bahwa mata pelajaran fisika adalah salah satu mata pelajaran sains yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis deduktif dengan menggunakan berbagai peristiwa alam dan penyelesaian masalah, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif dengan menggunakan matematika serta dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri. Hal ini menunjukkan bahwa fisika memiliki karakteristik yang tidak berbeda dengan karakteristik IPA pada umumnya, yaitu merupakan produk dan proses yang tak terpisahkan. Ini berarti bahwa dalam proses kegiatan belajar mengajar fisika agar diperoleh hasil belajar yang optimal, siswa dalam pembelajarannya harus dilibatkan secara fisik dan mental pada masalah-masalah prediksi, observasi, merencanakan eksperimen, sampai pada melakukan eksperimen agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Direct Instruction merupakan salah satu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah (Arends, 1997: 64). Model pembelajaran ini dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah (Kardi & Nur, 2000: 5). Hal ini sesuai dengan pendapat Carin (1993: 82) bahwa Direct Instruction secara sistematis menuntun dan membantu siswa untuk meningkatkan hasil belajar dari masing-masing tahap demi tahap.
Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih, lama kelamaan akan menjadi suatu keterampilan (Nur, M. 200a). Sedang pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar yang sekaligus memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu yang terampil dalam bentuk kreativitas.
Para ahli di kalangan pendidikan IPA menyatakan bahwa IPA adalah produk atau konsep dan sekaligus juga sebagai proses. Hubungan antara produk IPA dengan proses IPA, seperti telah diungkapkan oleh Nur (1996) bahwa mengajarkan IPA terbatas pada produk atau fakta, konsep tanpa mempertimbangkan proses, atau sebaliknya penekanan yang berlebihan pada proses tanpa mempertimbangkan konsep juga kurang dapat diterima.
Ada dua alasan yang melandasi perlunya diterapkan Pendekataan Keterampilan Proses dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya IPA fisika bagi siswa SMU. Alasan pertama adalah bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pesat pula, sehingga tak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Jika guru masih bersikap “mau mengajarkan” semua fakta dan konsep dari berbagai cabang ilmu, maka sudah jelas target itu tidak akan tercapai. Sebagai alternatifnya, siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak semata-mata dari guru.
Alasan kedua, adalah IPA itu dapat dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi poses. Jadi betapa pentingnya keterampilan proses yang dapat diartikan sebagi proses untuk mendapatkan ilmu yang diajarkan kepada siswa sehingga dimasa yang akan datang bangsa kita tidak hanya pandai menggunakan IPA tetapi pandai juga memproduksi IPA. Dengan demikian bangsa kita akan dapat sejajar dengan bangsa yang maju lainnya.
Funk, dkk. dalam Nur, M (1996: 8) mengklasifikasikan keterampilan proses menjadi keterampilan proses IPA dasar dan keterampilan proses IPA terpadu. Keterampilan proses IPA dasar terdiri dari pengamatan, klasifikasi, komunikasi, pengukuran, prediksi, dan inferensi. Sedangkan keterampilan yang lebih kompleks (keterampilan proses terpadu) terdiri dari pengidentifikasian variabel, penyusunan tabel data, penyusunan grafik, pendeskripsian hubungan antar variabel, pemerolehan data dan pemrosesan data, penganalisaan, penyelidikan, dan pengeksperimenan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian deskriptif dan penelitian penjelasan dengan metode eksperimen. Dalam mengimplementasikan perangkat pembelajaran, peneliti menggunakan pendekatan keterampilan proses meliputi keterampilan merencanakan dan melakukan eksperimen pada kelas eksperimen (X5) dan menggunakan pembelajaran yang biasa dilakukan di sekolah dengan metode ceramah, tanya jawab, eksperimen, dan pemberian tugas sebagai pembanding pada kelas control (X4) MA Mu'allimat NW Pancor.
Pada saat pengimplementasian perangkat pembelajaran di kelas, peneliti menggunakan rancangan Pretest-Postest Control-Group Design (Tuckman: 1978: 131-132). Dalam penelitian ini, variabel yang dikontrol adalah guru, jumlah RPP, jumlah jam pelajaran, dan soal tes produk.
Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap pengembangan dan tahap pelaksanaan uji coba perangkat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan mengujicobakan perangkat pembelajaran yang telah disusun dalam pengajaran di kelas. Pengembangan perangkat pembelajaran dengan menggunakan Four-D model yang dikemukakan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974: 5). Proses pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari empat tahap yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan dessiminate (penyebaran) atau diadaptasikan menjadi Model 4-P, yaitu Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran (Ibrahim, 2002).
Selama pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan terhadap kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan proses dan pada akhir pembelajaran siswa diminta memberi respon terhadap kegiatan belajar mengajar yang telah berlangsung, sedangkan untuk mengetahui tingkat ketercapaian indicator (ketuntasan belajar), dilakukan uji awal (pretest) dan uji akhir (post-test) yang teknik analisis datanya menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Tujuannya untuk mendeskripsikan kegiatan siswa selama proses pembelajaran, dan statistik inferensial untuk melihat perbedan prestasi yang dicapai siswa sebelum dan sesudah KBM berlangsung.

KESIMPULAN
Hasil pengamatan dan analisis data diperoleh temuan antara lain, kemampuan siswa dalam melakukan keterampilan proses merancang dan melakukan eksperimen adalah baik, serta siswa senang dan berminat terhadap pelatihan keterampilan proses. Proses belajar mengajar yang menerapkan perangkat pembelajaran ini dapat meningkatkan proporsi jawaban benar siswa untuk THB Produk sebesar 72 %, sedangkan untuk proporsi jawaban benar siswa untuk THB Proses dan Kinerja sebesar 80 %, dan dari hasil analisis statistik uji-t, diperoleh bahwa hasil belajar produk siswa yang diajar melalui kompetensi merancang dan melakukan eksperimen dengan model pengajaran langsung adalah lebih baik dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran yang biasa dilakukan disekolah dengan metode ceramah, tanya jawab, eksperimen, dan pemberian tugas.






DAFTAR PUSTAKA

Arends, R.I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: Mc Graw-Hill Companies, Inc.
Carin, A.A. 1993. Teaching Modern Science, Sixth Edition. New York: Macmillan Publishing Company.
Ibrahim, M. (2002). Pengembangan perangkat Pembelajaran. Modul: Bio-C-06 Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Kardi, S. dan Nur, M. 2000. Pengajaran Langsung. Surabaya: UNESA University Press.
Nur, M. 1995. Masalah Pendidikan IPA dan Alternatif Pemecahannya. Makalah Di Sampaikan pada Peresmian Jabatan Guru Besar IKIP Surabaya, 30 Januari 1995.
Nur, M. 1996. Konsep Tentang Arah Pengembangan Pendidikan IPA SMP dan SMU Dalam Waktu 5 Tahun Yang Akan Datang. Makalah Disajikan Pada Kegiatan Penyusun Bahan dan Persiapan PKG IPA Dikmenum Di BPG Surabaya Tanggal 11 S.D. 22 Juni 1996.
Nur, M. 2000a. Buku Panduan Keterampilan Proses dan Hakikat Sains. Surabaya: Unesa-University Press.
Puskur. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Pusat Kurikulum , Balitbang Depdiknas.
Thiagarajan,S.,Semmel. D.S.,& Semmel,M.I. 1974. Instructional Development for training teachers of Exceptional Children a Sourcebook. Bloomington: Center for Innovation on teaching the Handicaped.
Tjokrodiharjo. 1995. Kontribusi Kegiatan Laboratorium Dalam Proses Pembelajaran Kimia di SMU Sebagai Upaya Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia Pada Era Iptek Dalam Pelita VI. Makalah Di Sampaikan Pada Pengukuhan Guru Besar, Universitas Negeri Surabaya.

PTK

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
(Classroom Action Research)

Setiap mendengar istilah penelitian, para guru seringkali menganggap hal itu sebagai suatu kegiatan yang sulit dan berat. Bayangan yang datang kemudian adalah untuk dapat menyelesaikan suatu penelitian kita harus menggunakan statistic dan metodologi yang membuat pusing. Apabila anda sebagai seorang guru merasa bahwa proses pembelajaran yang anda praktikkan sehari-hari di kelas tidak bermasalah, maka tidak perlu di laksanakan penelitian. Tetapi yang menjadi masalah biasanya adalah kita tidak bisa objektif dalam menilai diri sendiri, yang terjadi adalah seorang guru telah melakukan kekeliruan bertahun-tahun tetapi ia tidak menyadarinya.

1. Apakah PTK itu ?
PTK adalah penelitian tindakan kelas atau sering disebut classroom action research yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau disekolah tempat ia mengajar, dengan penekannan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses pembelajaran. Dalam PTK guru dapat melakukan penelitian sendiri terhadap proses pembelajaran di kelas atau juga secara kolaboratif bekerjasama dengan guru atau peneliti yang lain.
Dalam prakteknya, PTK adalah tindakan yang bermakna melalui prosedur penelitian yang mencakup empat langkah yaitu perencanaan (Planning), tindakan (Action), observasi (Observation) dan Refleksi (Reflection). Empat langkah utama yang saling berkaitan itu dalam pelaksanaanya disebut satu siklus. Kemudian secara visual tahapan pada setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut :

a. Perencanaan (planning)
Kegiatan perencanaan mencakup (1) identifikasi masalah, (2) analisis penyebab adanya masalah, (3) pengembangan bentuk tindakan (aksi) sebagai pemecahan masalah.
Untuk keperluan identifikasi masalah dalam penelitian tindakan kelas ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
1. Masalah harus benar-benar terjadi dan dirasakan oleh guru pada saat melaksanakan tugas ( on the job problem oriented). Sebagai contoh sebagian besar siswa (80%) pemahaman konsep fisika tentang gerak melingkar masih kurang dimana siswa belum mencapai batas ketuntasan belajar yaitu 60. Masalah pembelajaran di kelas inilah yang bisa digolongkan sebagai masalah nyata (riil) karena didukung dengan data yang betul-betul dapat dipertanggungjawabkan dan dipunyai oleh guru.
2. Problematik, artinya masalah perlu dipecahkan berkaitan dengan tanggung jawab dan wewenang tugas seorang guru, karena tidak semua masalah pembelajaran secara riil bisa dikategorikan sebagai masalah yang problematic.
3. Memiliki manfaat yang jelas, artinya pemecahan masalah yang dilakukan akan memberikan manfaat yang jelas bagi siswa dan guru karena ada kemungkinan kalau masalah tidak segera diatasi akan menganggu penguasaan kompetensi berikutnya.
Setelah guru menemukan masalah, perlu segera melakukan langkah identifikasi penyebab munculnya masalah. Kegiatan selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap penyebab adanya masalah yang akan dijadikan landasan berfikir untuk mencari alternative suatu tindakan (aksi) yang dapat dikembangkan sebagai bentuk solusi atau pemecahan masalah.

b. Tindakan (Acting)
Dalam menentukan bentuk tindakan (aksi) yang dipilih perlu mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : (a) apakah tindakan (aksi) yang dipilih telah mempunyai landasan berfikir yang mantap, baik secara kajian teoritis maupun konsep? (b) apakah alternative tindakan yang dipilih dipercayai (diasumsikan) dapat menjawab permasalahan yang muncul ? (c) bagaimanakah cara melaksanakan tindakan dalam bentuk strategi langkah-langkah setiap siklus dalam proses pembelajaran di kelas ? (d) bagaimana cara menguji tindakan sehingga dapat dibuktikan telah terjadi perbaikan kondisi dan peningkatan proses dalam kegiatan pembelajaran kelas yang diteliti ?
Jawaban sementara atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas disebut hipotesa tindakan yaitu alternative tindakan yang dipandang paling tepat atau dipercaya oleh dari peneliti akan mampu memecahkan masalah yang dihadapi. Setelah ditetapkan bentuk tindakan (action) yang dipilih sesuai dengan rencana pelaksanaan tindakan, maka langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan tindakan dalam proses pembelajaran sesuai dengan scenario pembelajaran yang sudah dibuat oleh guru.
c. Observasi (observation)
Kegiatan observasi atau pengamatan dalam penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran yang lengkap secara objektif tentang perkembangan proses pembelajaran, dan pengaruh dari tindakan yang dipilih terhadap kondisi kelas dalam bentuk data. Data yang dihimpun melalui pengamatan ini meliputi data kuantitatif dan data kualitatif sesuai dengan indicator yang ditetapkan.
Kegiatan pengambilan data dapat dilakukan diantaranya dengan cara :
1. Observasi atau pengamatan (non tes), bagaimana anak mempersiapkan alat dan bahan , bagaimana anak menggunakan alat, bagaimana sikap anak ketika mengerjakan tugas dll.
2. Wawancara (non tes) terhadap anak yang memiliki perbedaan kemamuan dll
3. Angket (non tes), sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa secara tertulis yang berguna untuk mengungkap tanggapan balik siswa dan dampak dari aktivitas tindakan selama proses pembelajaran berlangsung.
Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada oranglain bersedia memberikan respon (responden) sesuai dengan permintaan pengguna. (Riduwan, 2004:99). Angket dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu Angket terbuka dan angket tertutup
a. Angket terbuka
Adalah angket yang disajikan dalam bentuk sederhana sehingga responden dapat memberikan isian sesuai dengan kehendak dan keadaanya.
Contoh 1:
Pendidikan apa saja yang pernah saudara ikuti ? tulislah dengan sebenarnya, di mana dan tahun berapa lulusnya.
No Tingkat Pendidikan Tempat Tahun Kelulusan
1
2
3

Contoh 2 :
Bagaimanaka pendapat saudara tentang dibentuknya dewan sekolah ?
........................................................................................................................
b. Angket Tertutup
Adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta untuk memilih salah satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan cara memberikan tanda silang (X) atau ceklist(√)
Contoh 1 :
Apakah saudara termasuk mahasiswa yang aktif dalam organisasi ?
a. Ya b. Tidak
Contoh 2:
No Pernyataan Alternatif Jawaban
4 3 2 1
S CS KS BS
1 Sekolah merencanakan, mengidentifikasi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah

Ket :
4 = siap (S), 3 = Cukup Siap(CS), 2 = Kurang Siap (KS), 1 = Belum Siap (BS)
4. Dokumentasi (non tes) berupa gambar atau photo PBM.
5. Catatan Harian.
Banyak manfaatnya guru mempunyai catatan harian. Isinya antara lain adalah catatan pribadi tentang pengamatan, perasaan, tanggapan, penafsiran, refleksi, firasat, hipotesis dan penjelasan (Kemmis dalam Elliott, 1991:77). Catatan tidak hanya melaporkan kejadian lugas sehari-hari, melainkan juga mengungkapkan perasaan bagaimana partisipasi di dalam penelitian.
6. Catatan Lapangan (Field Notes)
Sumber informasi yang sangat penting dalam penelitian ini adalah catatan lapangan yang dibuat oleh peneliti/mitra peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi. Berbagai aspek pembelajaran di kelas, hubungan interaksi guru dengan siswa, interaksi siswa dengan siswa, iklim sekolah, dsb.
7. Nilai Ulangan (tes), penilaian hasil tugas yang dilakukan guru lain sejenis.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan data berkaitan dengan observasi ini adalah :
(1) Jenis data yang dihimpun memang diperlukan dalam rangka implementasi tindakan perbaikan,
(2) Indikator-indikator yang ditetapkan harus tergambarkan pada perilaku siswa dan guru secara terukur,
(3) Kesesuaian prosedur pengambilan data,
(4) Pemanfaatan data dalam analisis dan refleksi
d. Refleksi (reflection)
Refleksi dilakukan untuk mengadakan upaya evaluasi yang dilakukan guru dalam tim pengamat dalam penelitian tindakan kelas. Refleksi dilakukan dengan cara berdiskusi terhadap berbagai masalah yang muncul di kelas penelitian yang diperoleh dari analisis data sebagai bentuk dari pengaruh tindakan yang telah dirancang. Pada tahap ini juga ditelaah aspek-aspek mengapa, bagaimana, dan sejauh mana tindakan yang dilakukan mampu memperbaiki masalah secara bermakna. Berdasarkan masalah-masalah yang muncul pada refleksi asil perlakuan tindakan pada siklus pertama, maka akan ditentukan oleh peneliti apakah tindakan yang dilaksanakan sebagai pemecahan masalah sudah mencapai tujuan atau belum. Melalui refleksi inilah maka peneliti akan menentukan keputusan untuk melanjutkan siklus selanjutnya. Misalnya target yang telah ditetapkan anak harus mendapatkan nilai 70, ternyata hasil pada siklus I baru mencapai nilai 68 maka perlu dilakukan tindakan perbaikan (replanning) pada siklus II

2. Masalah-masalah apa yang dapat dikaji melalui PTK ?
Dikarenakan makna kelas dalam PTK adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar, maka permasalahan PTK cukup luas, diantaranya sebagai berikut :
a. Masalah belajar siswa di sekolah, misalnya permasalahan belajar di kelas, kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, mistrategi, dll
b. Pengembangan pfrofesionalisme guru dalam peningkatan mutu perancangan, pelaksanaan dan evaluasi program pegajaran.
c. Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran (misalnya penggantian metode mengajar tradisional dengan metode mengajar baru).
d. Alat bantu, media dan sumber belajar misalnya masalah penggunaan media, perpustakaan dan sumber belajar di dalam/luar kelas.
e. Sistem assesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran
f. Masalah kurikulum, misalnya implementasi KBK; urutan penyajian materi pokok; interaksi guru – siswa; siswa- materi ajar dsb.
3. Menyusun Usulan PTK
Pada umumnya usulan PTK terdiri atas :
1. Judul PTK
Judul hendaknya ditulis degan singkat dan spesifik. Hal utama yang seharusnya tertulis di dalam judul adalah gambaran dari apa yang dipermasalahkan, (misalnya peningkatan prestasi belajar) dan bentuk tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalahnya ( misalnya penggunaan model pembelajaran kooperatif).
Umumnya di bawah judul dituliskan pula subjudul. Subjudul ditulis untuk menambahkan keterangan lebih rinci tentang populasi, misalnya di mana penelitian dilakukan, kapan, dikelas berapa, dan lain-lain
2. Bab I .Pendahuluan
3. Bab II Kajian Pustaka
4. Bab III. Metodologi Pelaksanaan
5. Bab IV. Hasil dan Pembahasan
6. Bab V. Simpulan dan Saran

Format Pembuatan Laporan
SAMPUL
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL (KALAU ADA)
DAFTAR GAMBAR (KALAU ADA)
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah dan Pemecahannya
C. Tujuan
D. Manfaat
E. Hipotesis Tindakan (bila diperlukan)
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
B. Temuan Hasil Penelitian yang Relevan
C. Kerangka Pikir

BAB III PELAKSANAAN
A. Lokasi dan Waktu
B. Subjek
C. Prosedur
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
B. Pembahasan
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Contoh Perangkat Pembelajaran
2. Instrumen
3. Data

Penjelasan
ABSTRAK
Abstrak berisi uraian ringkas permasalahan, tujuan, prosedur, dan hasil PTK. Abstrak diketik satu spasi dengan font 11, huruf Arial dalam bahasa Indonesia Jumlah kata dalam abstrak tidak melebihi 200 kata dan dilengkapi dengan kata kunci sebanyak 3–5 kata. Pada bagian ini ditulis dengan ringkas hal-hal pokok tentang (a) permasalahan, khususnya rumusan masalah, (b) tujuan, (c) prosedur pelaksanaan PTK, dan (d) hasil penelitian.

KATA PENGANTAR
Kata pengantar berisi hal-hal yang ingin disampaikan oleh tim pengembang sehubungan dengan pelaksanaan PTK dan hasil yang dicapai. Di bagian ini dapat pula disampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang berjasa dalam pelaksanaan PTK.
DAFTAR ISI
Daftar isi memuat bagian awal laporan, bab dan sub-bab, bagian akhir, disertai pencantuman nomor halamannya.
DAFTAR TABEL
Daftar tabel memuat nomor dan judul semua tabel yang ada dalam laporan disertai pencantuman nomor halamannya.
Penulisan Tabel dan Gambar/Grafik/ Bagan
a. Semua bentuk tabel dan gambar kecuali tabel kerja dalam analisis statistik, diberi nomor urut dengan angka arab (1,2,3 dst)
b. Judul tabel harus ditulis di atas tabel, dengan huruf besar pada setiap awal kata, kecuali kata sambung.
c. Judul gambar (grafik dan bagan dianggap sebagai gambar) ditulis di bawah gambar, dengan huruf besar pada setiap awal kata, kecuali kata sambung.
d. Judul tabel dan gambar maupun isi tabel yang lebih dari satu baris, ditulis dengan jarak satu spasi.

DAFTAR GAMBAR
Daftar gambar memuat nomor dan judul semua gambar yang ada dalam laporan disertaii pencantuman nomor halamannya. Gambar yang dimaksud adalah gambar yang diambil selama proses Penelitian berlangsung dan berguna antara lain, untuk menggambarkan situasi kelas laboratorium atau mimik seorang peserta didik yang dapat memperkuat uraian dalam komponen penemuan.
Sistem penomoran pada isi Laporan
Penomoran menggunakan pola tata urutan sebagai berikut :
Tingkat pertama, menggunakan angka romawi besar : I, II, III dst
Tingkat ke 2, dengan huruf latin besar: A, B, C dst
Tingkat ke 3, dengan angka arab : 1, 2, 3 dst
Tingkat ke 4, dengan huruf latin kecil: a, b, c dst
Tingkat ke 5, dengan angka arab, satu kurung tutup: 1), 2), 3) dst
Tingkat ke 6, dengan huruf latin kecil, satu kurung tutup: a), b), c) dst
Tingkat ke 7, denganangka arab, dua kurung: (1), (2), (3) dst
Tingkat ke 6, dengan huruf latin kecil, dua kurung : (a), (b), (c) dst
Bab I. Pendahuluan
Pendahuluan berisi uraian tentang pentingnya masalah yang mendesak untuk dipecahkan, serta dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu, biaya, dan daya dukung lainnya yang tersedia.
A. Latar Belakang Masalah
Masalah yang dikemukakan merupakan refleksi dari pengalaman nyata dalam pembelajaran yang diampu oleh guru. Masalah yang akan dipecahkan didiagnosis secara kolaboratif dan sistematis oleh dosen dan guru. Identifikasi masalah disertai dengan data pendukung dan dianalisis untuk menentukan akar penyebab masalah. Selanjutnya dikemukakan deskripsi dan analisis penyebab serta pemecahan masalah yang bersifat inovatif yang mungkin dapat dilakukan. Masalah yang akan dipecahkan bukan hasil kajian akademik (teoretik) atau hasil kajian empiris terdahulu, tetapi masalah nyata pembelajaran di kelas/laboratorium
B. Rumusan Masalah dan Rencana Pemecahannya
1. Rumusan Masalah
Masalah PTK dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya atau kalimat berita. Masalah perlu dijelaskan secara operasional dan ditetapkan lingkup pengembangan inovasinya.
2. Rencana Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah PTK dirancang dalam bentuk tindakan. Alternatif tindakan yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah perlu diidentifikasi. Argumentasi logis terhadap pilihan tindakan untuk memecahkan akar penyebab masalah perlu disajikan. Hipotesis tindakan dikemukakan bila diperlukan.
C. Tujuan
Tujuan PTK dirumuskan secara singkat, jelas, dan spesifik berdasarkan permasalahan yang dikemukakan. Bila tujuan kurang spesifik, perlu dirumuskan indikator/kriteria keberhasilan yang realistik, dapat diukur, dan jelas cara asesmennya.
D. Manfaat
Manfaat hasil pengembangan inovasi khususnya untuk perbaikan kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran diuraikan secara jelas. Perlu juga dikemukakan manfaatnya bagi peserta didik, guru/dosen, dan komponen pendidikan terkait di sekolah.
Bab II. Kajian Pustaka
Kajian pustaka, berisi uraian kajian teoretis dan empiris (hasil penelitian/pengembangan inovasi terdahulu yang relevan), digunakan sebagai landasan pemilihan tindakan. Uraian ini digunakan sebagai dasar penyusunan kerangka berpikir yang menunjukkan keterkaitan antara masalah, teori, hasil pengembangan inovasi terdahulu yang relevan, dan pilihan tindakan. Kerangka berpikir tersebut dapat digambarkan dalam bentuk bagan, diagram, uraian argumentatif, atau bentuk penyampaian lainnya.
Penulisan Kutipan
1. Setiap kutipan harus diulas atau diberi komentar oleh peneliti
2. Kutipan < 5 baris, maka masuk ke dalam teks dan diberi tanda petik
Contoh :
Menurut faham konstruktivisme, ” anak membangun pengetahuan di dalam pikirannya ” (Bodner, 1996:893).
Dalam pikiran siswa terbentuk bangunan mental yang menggambarkan fenomena alam sekitarnya dan disebut sebagai konsepsi.
Ratna Wilis (1988: 150) berpendapat bahwa ,” isi merupakan perilaku anak sebagai tanggapan terhadap berbagai masalah atau situasi yang diadapinya”. Jadi isi merupakan penerimaan pikiran yang tercermin dalam perilaku anak.
3. Kutipan ≥ 5 baris, ditulis dalam bagian tersendiri tanpa tanda petik. Ditulis menjorok ke dalam 5 ketukan dari margin (batas) kiri, ditulis dengan spasi tunggal(satu spasi).
Contoh :
Bagi siswa Sekolah Dasar juga perlu belajar sains. Hal ini sesuai dengan pendapat :
Sains sangat berpengaruh terhadap skill siswa dapat melatih berfikir secara logis dan nyata, membantu siswa memecakan masalah yang praktis dan sederhana. Sains membantu perkembangan skill siswa secara alami, terutama dalam menyelesaikan pekerjaan yang dihadapi. (Young, 1999:1-2)
Siswa yang dilatih atau biasa bekerja dengan metode ilmiah maka skillnya dapat berkembang.
4. Karangan yang ditulis oleh dua orang atau lebih
a. Jika karangan ditulis oleh dua orang maka semua nama penulis dicantumkan setiap kali mengutip karangan tersebut.
b. Untuk karangan yang ditulis oleh tiga sampai lima orang, semua nama dikutip pada penulisan referensi pertama kali. Selanjutnya cukup dengan menulis nama pengarang pertama, diikuti dengan tulisan et al (tidak digarisbawahi dan tanpa titik setelah kata et) dan tahunnya.
Bab III. Prosedur Pelaksanaan
a. Subyek Penelitian
Subjek pembelajaran adalah peserta didik di sekolah. Waktu dan lamanya tindakan dikemukakan secara rinci sesuai dengan banyak siklus yang diprediksikan.
b. Lokasi dan Waktu
Kelas dan sekolah/TK tempat pengembangan dikemukakan secara jelas.
c. Prosedur penelitian
Prosedur/langkah-langkah PTK diuraikan secara rinci dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi-refleksi untuk setiap siklus.
1. Perencanaan tindakan menggambarkan secara rinci hal-hal yang perlu dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan (seperti: penyiapan perangkat pembelajaran berupa skenario pembelajaran, media, bahan dan alat, instrumen observasi, evaluasi, dan refleksi).
2. Pelaksanaan tindakan berisi uraian tahapan dalam setiap siklus tindakan yang akan dilakukan oleh tim pengembang maupun peserta didik dalam pembelajaran.
3. Observasi menggambarkan perubahan proses dan hasil pembelajaran yang diamati dan cara pengamatannya.
4. Refleksi menguraikan cara evaluasi dan hasil asesmen berupa tingkat ketercapaian indikator keberhasilan serta gambaran eksplanasi dan makna dari perubahan proses-dan-hasil pembelajaran sebagai dasar penentuan langkah tindak lanjut.
Dalam PTK, satu siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi evaluasi, dan refleksi. Siklus kegiatan pengembangan dirancang berdasarkan tingkat pencapaian indikator keberhasilan. Untuk memantapkan hasil tindakan, tiap siklus dilaksanakan dalam beberapa kali pertemuan. Observasi proses pembelajaran dilakukan terus-menerus oleh guru dan dosen selama proses pengembangan berlangsung. Guru berperan ganda: sebagai pengajar dan sebagai pengamat. Dalam rencana tindakan pada setiap tahapan hendaknya digambarkan peran dan intensitas kegiatan tiap anggota tim pengembang, sehingga tampak jelas tingkat dan kualitas kolaborasi dalam pengembangan inovasi tersebut.
Untuk dapat membantu menyusun bagian ini, disarankan untuk terlebih dahulu menuliskan pokok-pokok rencana kegiatan dalam suatu tabel sebagaimana contoh berikut :
Siklus I Perencanaan:
Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah 1. Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam PBM
2. Menentukan pokok bahasan
3. Mengembangkan skenario pembelajaran
4. Menyusun LKM
5. Menyiapkan sumber belajar
6. Mengembangkan format evaluasi
7. Mengembangkan format observasi pembelajaran
Tindakan • Menerapkan tindakan mengacu pada skenario dan LKM
Pengamatan • Melakukan observasi dengan memakai format observasi
• Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format LKM
Refleksi • Melakukan evaluasi yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.
• Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario, LKM, dan lain-lain.
• Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya
Siklus II Perencanaan • Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah
• Pengembangan program tindakan II
Tindakan • Pelaksanaan program tindakan II
Pengamatan • Pengumpulan data tindakan II
Refleksi • Evaluasi tindakan II
Siklus-siklus berikutnya
Kesimpulan, saran

D. Teknik Pengambilan Data
Dalam penelitian pengembangan dan inovasi pembelajaran ini teknik pengambilan data berupa :
a. Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan untuk mengobservasi kegiatan guru selama proses kegiatan belajar mengajar di kelas.
b. Catatan Lapangan (Field Notes)
Catatan lapangan digunakan untuk mengobservasi kegiatan guru dan siswa selama proses kegiatan belajar mengajar masing-masing siklus.
c. Data kinerja siswa
Data kinerja siswa adalah data yang terkumpul hasil pekerjaan mahasiswa.
d.Tes Prestasi Belajar
Tes prestasi belajar mengajar digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman konsep mahasiswa.
E. Teknik Analisis Data
Dalam pelaksanaan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Pembelajaran ini, ada dua jenis data yang terkumpul yaitu:
a. Data Kualitatif yaitu data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa. Data ini akan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif.
b. Data Kuantitatif yaitu berupa data hasil prestasi belajar mahasiswa. Misalnya mencari rerata, presentase keberhasilan belajar dll. Dimana data nanti akan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan pembahasan berisi uraian mengenai perubahan proses dan hasil pembelajaran tiap-tiap siklus dengan data lengkap, disertai penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar yaitu perubahan pada diri peserta didik, atmosfer belajar, dan guru. Grafik dan/atau tabel, foto dapat digunakan secara optimal untuk mengemukakan hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi.
Pembahasan dilakukan dengan mengaitkan temuan dengan tindakan, indikator keberhasilan, dan dampak pengiring.
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
Bagian ini berisi simpulan hasil pengembangan inovasi (potret kemajuan) berdasarkan temuan yang sesuai dengan rumusan masalah. Saran tindak lanjut diberikan berdasarkan simpulan.
DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka yang dicantumkan dalam laporan hanya yang benar-benar dirujuk di dalam naskah. Daftar Pustaka dituliskan secara konsisten dan alphabetis. Daftar Pustaka dapat bersumber pada buku, jurnal, majalah dan internet dengan tata cara penulisan
Penulisan Daftar Pustaka
Daftar Pustaka hanya yang benar-benar dirujuk di dalam naskah, ditulis secara konsisten dan alphabetis. Daftar Pustaka dapat bersumber pada buku, jurnal,majalah dan internet dengan tata cara penulisan sebagai berikut.
1. Buku
Nama Pengarang. (tahun terbit). Judul Buku (cetak miring). Edisi buku. Kota Penerbit: Nama Penerbit. (model American Psychology Association/APA edisi kelima).
Contoh:
Wiersma, W. (1995). Research Methods in Education: An Introduction. Boston:
Allyn and Bacon.
2. Artikel/Bab dalam suatu Buku
Nama Pengarang. (tahun terbit). Judul Artikel. In/Dalam Nama Editor (Ed.). Judul Buku (cetak miring). Edisi. Nama Penerbit: Kota Penerbit, halaman
Contoh:
Schoenfeld, A.H., (1993). On Mathematics as Sense Making: An Informal Attackon the Unfortunate Divorce of Formal and Informal Mathematics. In J.F. Voss.,D.N. Perkins & J.W. Segal (Eds.). Informal Reasoning and Education.Hillsdale. NJ: Erlbaum, pp. 311-344.7
3. Artikel dari Jurnal
Nama Pengarang, (Tahun). Judul Artikel, Nama Jurnal (cetak miring). Volume Jurnal, halaman.
Contoh:
Mikusa, M.G. & Lewellen, H., (1999). Now Here is That, Authority on Mathematics Reforms, The Mathematics Teacher, 92: 158-163.
4. Majalah
Nama Pengarang, (Tahun). Judul Artikel, Nama Majalah (cetak miring). Volume Terbitan, Nomor Terbitan, halaman.
Contoh:
Ross, D., (2001). The Math Wars, Navigator, Vol 4, Number 5, pp. 20-25.
5. Internet
Nama Pengarang, (Tahun). Judul (cetak miring). alamat website. Tanggal akses.
Contoh:
Wu, H. H., (2002). Basic Skills versus Conceptual Understanding: A Bogus Dichotomy in Mathematics Education. Tersedia pada http://www.

Jumat, 21 November 2008

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS) DENGAN METODE INKUIRI TERBIMBING DAN EKSPERIMEN DITINJAU DARI SIKAP ILMIAH
(Studi Kasus Pembelajaran Elektronika Dasar I Pada Pokok Bahasan Dioda Semikonduktor pada Mahasiswa Semester III Tahun Akademik 2007/2008 STKIP Hamzanwadi Selong NTB

ABSTRAK


Satutik Rahayu, S830906011.2006.” Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievment Division) Dengan Metode Inkuiri Terbimbing Dan Eksperimen Ditinjau Dari Sikap Ilmiah ”(Studi Kasus Pembelajaran Elektronika Dasar I Pada Pokok Bahasan Dioda Semikonduktor pada Mahasiswa Semester III Tahun Akademik 2007/2008 STKIP Hamzanwadi Selong NTB). Tesis: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Tujuan penelitian ini adalah untuk:1) mengetahui apakah terdapat perbedaan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode inkuiri terbimbing dan eksperimen terhadap prestasi belajar mahasiswa pada aspek kognitif dan psikomotorik, 2) mengetahui apakah terdapat perbedaan sikap ilmiah kategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar mahasiswa pada aspek kognitif dan psikomotorik, 3) mengetahui apakah terdapat interaksi antara pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui metode inkuiri terbimbing dan eksperimen dengan sikap ilmiah terhadap prestasi belajar mahasiswa pada aspek kognitif dan psikomotorik.
Penelitian mulai dilaksanakan pada bulan Nopember 2006 sampai dengan bulan september 2007, dengan populasi mahasiswa semester III Program Studi pendidikan Fisika STKIP Hamzanwadi Selong, menggunakan metode eksperimen dan desain faktorial anava 2 x 2, sampel penelitian diperoleh dengan cara simple random sampling (acak sederhana).
Teknik pengumpulan data sikap ilmiah mahasiswa dengan menggunakan angket tertutup, data kemampuan kognitif mahasiswa dilakukan dengan tes berbentuk multiple coice dan data kemampuan psikomotorik menggunakan metode observasi. Validitas instrumen diuji dengan menggunakan koefisien korelasi point biserial untuk kemampuan kognitif, instrumen sikap ilmiah dengan menggunakan teknik product moment. Sedangkan untuk reliabilitas angket menggunakan rumus alpha, diperoleh r11 = 0,301855 dan reliabilitas kemampuan kognitif diperoleh r11 = 0,6855 . Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi(anava) 2 x 2.
Hasil analisis data pada taraf signifikansi 5 % dengan dk =1 dan Ftabel = 4,00 diperoleh : 1) data kemampuan kognitif mahasiswa Fhitung = 4,354138 sedangkan kemampuan psikomotorik Fhitung = 4,0693 artinya model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode inkuiri terbimbing lebih berpengaruh dibanding dengan metode eksperimen, 2) data sikap ilmiah mahasiswa Fhitung = 5,748454 sedangkan kemampuan psikomotorik Fhitung = 5,6985 artinya sikap ilmiah tinggi lebih berpengaruh dibanding dengan sikap ilmiah rendah, 3) Uji pengaruh interaksi menunjukkan Fhitung = 0,203941 untuk kemampuan kognitif dan uji kemampuan psikomotorik Fhitung = 0,493 artinya tidak ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD melalui metode inkuiri terbimbing dan eksperimen dengan sikap ilmiah terhadap kemampuan kognitif dan psikomotorik
.
Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif Tipe STAD, metode Eksperimen, Metode Inkuiri terbimbing, Prestasi belajar, Sikap Ilmiah

ABSTRACT

Satutik Rahayu, S830906011.2006.” The Effect of Cooperative Learning Model Type STAD (Student Teams Achievement Division) with Gu ided Inquiry Method and Experiment Observed From Scientific Attitude” (The Case Study on Basic Electronic Learning I in the field of study of Diode Semiconductor of the third semester students year 2007/2008 STKIP Hamzanwadi Selong NTB). Thesis: Postgraduate Program Sebelas Maret University of Surakarta.

The purposes of the research are : 1) to know whether there is any effect between the using of STAD cooperative learning method and guided inquiry method and experiment toward student achievement at cognitive and psychomotor aspects, 2) to investigate whether there is any different scientific attitude between the high and low category toward student achievement at cognitive aspect and psychomotor aspect, to examine whether there is any interaction between the influence of STAD cooperative learning model through the guided inquiry method and the experiment with the scientific attitude toward students learning achievement at cognitive and psychomotor aspects.

The research is conducted on November 2006 until September 2007, with the population consisting the third semester students of Physics Education Major of STKIP Hamzanwadi Selong, uses experiment method and anava factorial design 2 x 2 taken in simple random sampling by lottery.

The technique of collecting data uses closed questionnaire which the students’ cognitive aspect data are checked by multiple-choice test and the psychomotor aspect data are checked by observation. Instrument validity is tested to investigate cognitive aspect by using biserial point correlation coefficient, scientific attitude instrument uses product moment technique, and while questionnaire reability uses alpha formula, acquired r11 = 0,30 and cognitive aspect reability acquired r11 = 0,69. The technique of analysis data is variance analysis (anava) 2 x 2.

The result of the data analysis based on 5 % level signification and Ftabel= 4,00 and find that: 1) students achievement cognitive aspect data Fcount = 4,35 and while psychomotor aspect Fcount = 4,07 means that STAD cooperative learning model with guided inquiry method give more influence than experiment method, 2) scientific attitude student data Fcount = 5,75 and while psychomotor aspect Fcount = 5,70 means high scientific attitude give more influence that low scientific attitude, 3) interaction impact test showing Fcount = 0,20 for cognitive aspects and psychomotor aspects test Fcount = 0,49 means that there is no interaction between STAD cooperative learning model thorough guided inquiry method and experiment and scientific attitude toward student learning achievement at cognitive and psychomotor aspects.